<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627</id><updated>2011-11-21T06:01:09.843+07:00</updated><category term='t u l i s'/><title type='text'>batulis   tulis</title><subtitle type='html'>b a c a   t u l i s   g a l e r i e s</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-1232953174252986903</id><published>2008-11-23T12:37:00.004+07:00</published><updated>2008-11-23T13:22:01.348+07:00</updated><title type='text'>Resesi Besar, Bukan Depresi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SSjxsvkbkrI/AAAAAAAAAMo/TegWjOK2dwE/s1600-h/resesi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 155px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SSjxsvkbkrI/AAAAAAAAAMo/TegWjOK2dwE/s200/resesi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271729114822972082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;MUNGKINKAH depresi tahun 1930 kembali terjadi? Sebelum menjawabnya, saya akan singgung sedikit apa dan bagaimana depresi tahun 1930-an terjadi. Depresi besar dasawarsa 1930-an (dulu kita kenal dengan istilah malaise) terjadi akibat kegagalan permintaan yang merupakan salah satu masalah pokok perekonomian. Dengan kata lain, seperti yang diungkapkan Keynes depresi ekonomi disebabkan oleh kepanikan yang berhubungan pada permintaan irasional terhadap uang tunai di Wall Street yang disebutnya sebagai ”preferensi likuiditas” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;(liquidity preference)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kondisi permintaan irasional terjadi karena waktu itu bursa saham sedang bergairah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(bullish)&lt;/span&gt;. Akibatnya terjadi ’eksodus’ modal besar-besaran dari bank ke bursa saham. Ledakan spekulan tak terhindarkan dan pada kondisi inilah tercipta gelembung ekonomi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(economic bubble)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nah, bagaimana kemudian dengan Krisis finansial global &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Financial Global Crisis)&lt;/span&gt; yang terjadi belakangan ini?&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Krisis finansial global saat ini sejatinya bermula dari perilaku boros pemerintah dan masyarakat AS. Hal ini tercermin dari adanya defisit ganda AS, defisit anggaran belanja dan defisit transaksi berjalan. Selain itu, krisis juga dipicu oleh kredit perumahan sub-prima &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(subprime mortgage)&lt;/span&gt; dalam jumlah besar di Amerika Serikat yang lepas kontrol. Memang kala itu perumahan menjadi bisnis yang menarik, namun ketika suku bunga naik, kredit macet naik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Laris-manisnya bisnis perumahan ini awalnya mendorong spekulan berinvestasi dengan ekspektasi tinggi (booming ekonomi). Akibatnya kredit bergerak tak terkendali dan ini adalah konsekuensi dari dianutnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;market fundamental&lt;/span&gt;. Faktor greedy pun terwujud dalam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Moral hazard&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mark-up&lt;/span&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta di atas mirip dengan teori siklus bisnis. Menurut Teori Siklus Bisnis, saat booming ekonomi, kredit akan bergerak tak terkendali, moral hazard tumbuh, sehingga masa kemakmuran akan berbalik menjadi krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Perilaku boros, gagal bayar kredit beresiko tinggi yang kemudian diperparah dengan berkembangnya penciptaan derivatif di sektor keuangan menjadi awal krisis. Bencana keuangan pun melanda dan melumpuhkan sejumlah lembaga yang bergerak di bidang KPR. Raksasa finansial Bear Stearns dan Bank raksasa Lehman Brothers menjadi korban.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna mengatasi krisis dan menyelamatkan bank-bank yang terpuruk, pemerintah AS terpaksa campur tangan dengan melakukan bailout 700 milyar dolar. Jatuhnya Lehman Brothers tidak bukan akhir cerita, krisis justru makin meluas. Beberapa pasar modal pun mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;panic selling&lt;/span&gt;, yang kemudian mendorong kejatuhan indeks harga saham di hampir semua negara.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan krisis finansial global yang bermula dari kekacauan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;subprime mortgage&lt;/span&gt; di Amerika Serikat, telah menyebabkan shock pada perekonomian, bukan saja perekonomian Amerika, tetapi juga perekonomian dunia. Bagaimana dengan Indonesia, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Krisis Global Bagi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dianutnya rezim perekonomian terbuka menjadikan semua negara dunia terintegrasi. Kebijakan negara (intern) yang dibuat harus memasukkan pertimbangan kondisi internasional (eksternal). Karena kondisi eksternal akan sangat memengaruhi sebuah negara dan tidak sebaliknya bagi negara dengan perekonomian terbuka kecil, seperti Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis keuangan global ’memaksa’ Indonesia untuk ikut ambil bagian, meski tidak besar, di dalamnya. Dampak krisis keuangan global setidaknya membawa pengaruh pada sektor riil dan sektor perbankan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak krisis di sektor riil nampak pada perubahan neraca perdagangan. Pelemahan ekonomi AS, dan negara maju lainnya, yang notebene menjadi negara tujuan utama ekspor Indonesia, berpotensi memengaruhi ekspor Indonesia. Selain itu sektor pariwisata juga ikut teancam karena berkurangnya jumlah wisman. Turunnya volume ekspor dan jumlah wisman yang merupakan penurunan permintaan agregat, dapat mengakibatkan menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi. Dampak lanjutan adalah meningkatknya pengangguran dan berkurangnya cadangan devisa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu halnya di sektor finansial meski relatif mampu bertahan, goncangan tidak terhindarkan. Harga saham IHSG anjlok ke level 1.250-1.400 dari puncaknya pada level 2.800 pada akhir 2007. Perluasan pun terjadi dengan terdepresiasinya kurs akibat kelangkaan dollar di pasar uang. Terapresiasinya dollar terhadap rupiah memberi potensi capital outflow semakin besar. Dan mengingat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor, juga berpotensi meningkatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;imported inflation&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resesi Besar, Bukan Depresi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Begitulah krisis finansial yang merepotkan banyak pihak ini terjadi. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan dengan depresi besar 1930. Kesamaan diantaranya epi sentrum krisis, ulah spekulan, runtuhnya lantai bursa yang ’memaksa’ bank gulung tikar, meningkatnya angka pengangguran, dan turunnya PDB. Kondisi ini membuat masyarakat dunia menjadi harap-harap cemas, apakah depresi besar sebagaimana tahun 1930-an akan terulang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian secara nominal perbandingan kondisi Amerika Serikat pada krisis finansial saat ini jauh lebih kecil daripada depresi tahun 1930-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 17pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 140.3pt; height: 17pt;" width="187"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Depresi   1930-an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 145.7pt; height: 17pt;" width="194"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Amerika   Serikat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 138.05pt; height: 17pt;" width="184"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Krisis   Finansial 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 17pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 140.3pt; height: 17pt;" width="187"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;25%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 145.7pt; height: 17pt;" width="194"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Pengangguran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 138.05pt; height: 17pt;" width="184"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;6%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 17pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 140.3pt; height: 17pt;" width="187"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;40%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 145.7pt; height: 17pt;" width="194"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;NPL Properti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 138.05pt; height: 17pt;" width="184"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;4&amp;amp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 17pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 140.3pt; height: 17pt;" width="187"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;54%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 145.7pt; height: 17pt;" width="194"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Penurunan Produksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 138.05pt; height: 17pt;" width="184"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;2% (sejak Januari ’08)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;" class="fullpost"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Dari tabel tersebut, kiranya krisis ini tidak akan membawa kepada depresi. Selain karena angka yang terpaut jauh, pendapat saya diperkuat dengan perbedaan perlakuan terhadap krisis. Kerjasama (peran negara) yang pada masa depresi kurang dikedepankan, dalam krisis finansial saat ini nampaknya justru menjadi langakh utama penyelesaian krisis. Kerjasama coba ditawarkan Amerika Serikat bersama G7, G8, G20, dan semua negara dunia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Lebih dari itu semua, fenomena ini menjadi sejarah baru dan menjadi niscaya bahwa peran negara penting dalam mengelola pasar. Pasar tidak self correcting. Dan benar apa yang dikatakan Richard Robinson dalam bukunya ”Indonesia: The Rise of Capital”, bahwa depresi ekonomi 1930-an menandai babak baru hubungan antara negara dan pasar. Hubungan harmonis negara dan pasar dan negara dengan negara lain (kerjasama) menjadi ’amunisi’ tangguh dalam menghalau atau mengeliminasi krisis yang meluas.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kilasan krisis finansial yang (memang) berpotensi ke arah depresi. Namun demikian saya menyebut 'krisis finansial global ini sebagai resesi, bukannya depresi. Karena meskipun merupakan bencana besar bagi beberapa negara, tapi pada tingkat dunia kerusakan itu hingga sekarang jauh lebih kecil dari tingkat depresi. Semoga.[]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*) &lt;/span&gt;Alvin N Muhammad (Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi UGM).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-1232953174252986903?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/1232953174252986903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=1232953174252986903&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/1232953174252986903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/1232953174252986903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2008/11/resesi-besar-bukan-depresi.html' title='Resesi Besar, Bukan Depresi'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SSjxsvkbkrI/AAAAAAAAAMo/TegWjOK2dwE/s72-c/resesi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-6555233998521675703</id><published>2008-10-29T06:53:00.007+07:00</published><updated>2008-10-29T07:15:14.531+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Kepiting</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SQenFEBFgmI/AAAAAAAAAMg/um1SW0J8n4M/s1600-h/kepiting.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SQenFEBFgmI/AAAAAAAAAMg/um1SW0J8n4M/s200/kepiting.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262358395025195618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Belajar itu harus tak kenal lelah dan tak pilah-pilah. Dalam belajar tidak boleh mudah menyerah, karena sejatinya belajar adalah berusaha. Sebesar usahamu sebesar itu pula hasilmu. Bagaimana akan mendapat hasil yang maksimal kalau mudah menyerah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Belajar juga tak boleh pilah-pilah. Belajar pada prinsipnya baik. Apa pun itu. Orang yang belajar senantiasa mengetahui dan orang yang tahu akan berharga. Begitu kata bijak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan belajar, Batulis punya sebuah fabel yang cukup menarik untuk disimak. Mungkin sebelumnya Anda pernah membaca atau mendengarnya. Tapi fabel ini coba Batulis sajikan sedikit berbeda. Sehingga Anda pun dapat menangkap makna dibalik cerita dan kalau pun mau belajar darinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Begini ceritanya. Suatu hari seekor ibu kepiting dan anaknya terlibat dalam sebuah percakapan. Sang ibu kepiting berbicara pada anaknya ”Nak tak seharusnya kamu berjalan ke samping. Berjalanlah maju ke depan.” Anak kepiting pun menjawab ”Iya Bu akan aku laksanakan perintah Ibu. Aku akan berjalan maju ke depan. Dan tak akan lagi jalan ke samping.” Bagus kalau begitu.” Ujar Ibu ”Tapi aku tidak bisa melakukannya Bu.” Sela si anak memelas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Sang Ibu kepiting pun berseru ”Berlatihlah terus anakku. Ku yakin akan bisa dirimu berjalan ke depan.” ”Tapi Bu, anakmu benar-benar tidak tahu cara berjalan ke depan. Karena Ibu tahu sejak kecil aku sudah berjalan ke samping.” Rengek anak kepiting kembali menimpali. ”Sudikah ibu mencontohkannya?” lanjut tanya si anak kepada ibunya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Ibu kepiting agak sedikit geram. Akhirnya pun si Ibu memberi contoh. Berjalanlah si ibu kepiting dengan berseru ”Begini anakku, lihat cara berjalannya.” Tapi sang anak seketika terperanggah, ternyata si ibu berjalan ke samping. Dan tak pernah sanggup berjalan maju ke depan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Begitulah ceritanya. Cukup menarik bukan? Apa makna di balik fabel Anak kepiting dan Ibunya? Fabel di atas memberikan makna kepada kita janganlah kita menyuruh orang, sementara diri kita tak sanggup melakukannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Bagaimana dengan diri kita. Seberapa sering kita berulah seperti sang ibu kepiting? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;Fenomena sang ibu kepiting banyak terjadi di sekitar kita. Atau bahkan kita sendiri melakukannya. Seringkali menyuruh, memberikan petuah, nasehat orang lain, padahal kita sendiri belum pernah atau bahkan tak sanggup melakukannya.[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-6555233998521675703?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/6555233998521675703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=6555233998521675703&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/6555233998521675703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/6555233998521675703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2008/10/belajar-dari-kepiting.html' title='Belajar dari Kepiting'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SQenFEBFgmI/AAAAAAAAAMg/um1SW0J8n4M/s72-c/kepiting.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-6483882285857994285</id><published>2008-05-21T01:29:00.002+07:00</published><updated>2008-05-21T01:39:43.625+07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme Negeri Gajah Putih-road in Thailand (3)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDMaZj-4tLI/AAAAAAAAAH0/RgmAhMtOE8o/s1600-h/merah+putih+Thailand.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202531021001110706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDMaZj-4tLI/AAAAAAAAAH0/RgmAhMtOE8o/s200/merah+putih+Thailand.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;:: R e f l e k s i H a r k i t n a s&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Thailand sangatlah menghargai bangsanya. Mereka sangat menjunjung tinggi ragam identitas negara. Tingginya rasa cinta mereka membawa pada kesimpulan bahwa masyarakat Thailand merupakan masyarakat dengan rasa nasionalisme yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulan saya di atas tidak tanpa bukti. Kenyataan untuk itu benar-benar terjadi. Bermula dari cerita teman saya sewaktu belanja di pasar Chatuchak. Pasar tradisional terbesar di Asia yang terkenal dengan anekaragam jenis barang yang dijual dan harga barang yang murah meriah. Ketika sedang berjalan di tengah keramaian pasar, teman saya ini terkejut dengan kondisi di sekitarnya. Ia merasa ada hal yang aneh baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterkejutan teman saya ketika menyaksikan aktivitas pasar yang tiba-tiba berhenti. Hanya dia dan beberapa bule yang melakukan aktivitas jalan kaki. Para pejalan kaki lainnya yang mayoritas orang Thai menghentikan langkahnya, diam mematung. Penjual pun menghentikan transaksinya sejenak. Bahkan teman saya tadi juga menyaksikan seorang penjual membiarkan ikan jualannya yang jatuh ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aktivitas pasar yang mendadak berhenti ini bukan tanpa alasan. Waktu itu ternyata ada salah satu stasiun radio, mungkin radio nasional semacam RRInya Thailand, sedang memutar lagu kebangsaan Thailand. Lagu kebangsaan memancar dari radio dan seketika rakyat Thailand yang mendengar berhenti, berdiam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa fenomena di atas. Sedikit aneh bagi teman saya. Karena boleh jadi kondisi tersebut jarang atau bahkan tidak perah ditemui di Indonesia. Kebanyakan dari rakyat Indonesia yang saya ketahui tidak melakukan hal serupa masyarakat Thailand. Mereka tidak sedikit pun merasa syahdu ketika mendengar lagu kebangsaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya lagu kebangsaan yang menunjukkan tingginya rasa nasionalisme rakyat Thailand. Masih banyak lagi contoh lainnya. Jika kita berkunjung ke Thailand, jangan heran ketika melihat puluhan bendera negara dan bendera kuning berlogo kerajaan terpasang di seluruh penjuru wilayah. Dan jangan pula mengira akan atau telah ada perhelatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Thailand sejak lama telah terbiasa memasang bendera negara dan bendera kerajaan Thailand. Mereka memasang bendera tidak hanya sewaktu hari besar saja. Melainkan setiap waktu dan tempat dapat terpasang bendera negaranya. Ketika hari besar semakin banyak bendera terpasang. Hal ini jelas menjadi bukti lain dari tingginya rasa cinta (baca. Nasionalisme) mereka kepada negara dan kerajaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet ulasan di atas hanyalah cerita pengalaman diri sewaktu mukim hampir sebulan di Thailand. Hanya itu, tidak ada motivasi dan pretense lain. Apalagi hendak membandingkan dengan nasionalisme rakyat Indonesia. Terlalu sempit untuk tujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak ada salahnya setelah membaca ulasan singkat ini kita sebagai bangsa Indonesia sedikit berefleksi dan kemudian bertanya. Bagaimana nasionalisme kita sebagai rakyat Indonesia? Akankah kita akan berhenti sejenak meresapi dan menghayati atau pun ikut bernyanyi, ketika lagu Indonesia raya dilantunkan? Akankah kita bangga dan merasa berharga ketika mendirikan bendera Merah Putih selain di tanggal 17 bulan Agustus dan hari kebangkitan nasional?[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-6483882285857994285?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/6483882285857994285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=6483882285857994285&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/6483882285857994285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/6483882285857994285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2008/05/nasionalisme-negeri-gajah-putih-road-in_21.html' title='Nasionalisme Negeri Gajah Putih-road in Thailand (3)'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDMaZj-4tLI/AAAAAAAAAH0/RgmAhMtOE8o/s72-c/merah+putih+Thailand.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-2672463923920806372</id><published>2008-05-19T00:57:00.016+07:00</published><updated>2008-05-21T11:58:22.649+07:00</updated><title type='text'>Timnas futsal Indonesia kalahkan Iraq-road in Thailand (2)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDBuDT-4tDI/AAAAAAAAAG0/ZG677wFnk0o/s1600-h/Lomba+futsal+se-Asia.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201778572795622450" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDBuDT-4tDI/AAAAAAAAAG0/ZG677wFnk0o/s200/Lomba+futsal+se-Asia.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;em&gt;Indonesia raya…merdeka merdeka…&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;tanahku negeriku yang kucinta…&lt;br /&gt;Indonesia raya…merdeka merdeka…&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suara itu muncul dari pintu masuk utara Huamark Stadium. Tiga puluh dua mahasiswa lengkap dengan bendera merah putih memasuki stadion. Mereka hendak menjadi suporter timnas futsal yang sedang berlaga melawan Iraq dalam laga AFC Futsal Campionship 2008 di Thailand. Saat datang pertandingan telah berlangsung. Skor kedua tim masih sama 0-0.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kedatangan puluhan mahasiswa ini menyita perhatian puluhan penonton dan beberapa pemain futsal di dalam stadion. Hal ini dikarenakan selain kedatangan mereka di tengah pertandingan berlangsung, juga dalam dua laga sebelumnya Indonesia main tanpa suporter. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pertandingan yang menjadi laga ketiga timnas setelah melawan Kyrgystan dan tuan rumah, Thailand sebenarnya juga nyaris bermain tanpa supporter. Namun kebetulan para pemain dan official timnas bertemu dengan puluhan mahasiswa di national stadium, tempat laga Indonesia melawan Thailand dilaksanakan. Singkat cerita mahasiswa yang sedang melakukan student exchange di Rajamangala Universitiy of Technology Thanyaburi (RMUTT) Thailand ini, diminta untuk menjadi suporter. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebenarnya mahasiswa telah diminta menjadi suporter dalam laga kedua, ketika Indonesia melawan Thailand. Namun mahasiswa tidak bisa karena jadwal pertandingan bersamaan dengan agenda mahasiswa &lt;em&gt;student exchange&lt;/em&gt; dengan KBRI di Bangkok.Puluhan mahasiswa seperti menemukan momentumnya setelah tidak bisa ikut mendukung dalam pertandingan sebelumnya. Mereka bernyanyi serentak dengan semangat memuncak. Tabuhan botol-botol kosong pun menambah riuh suasana. Menjadi aransemen pengiring lagu karya WR. Supratman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Permainan terus berlangsung. Suporter pun terus bersorak menyemangati. Fair play menyelimuti permainan kedua tim papan bawah group A ini. Serangan demi serangan terus diluncurkan timnas Indonesia. Seperti tiada rasa lelah, yang ada hanya semangat dan kerja keras kedua tim untuk saling menjebol gawang lawan. Startegi-strategi jitu besutan para pelatih pun saling beradu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Papan skor mulai bernilai, 1-0 untuk keunggulan timnas. Namun selang beberapa menit saja gol Iraq pun menyusul. Begitu saling berganti antara kedua tim. Hingga akhir babak pertama kedua tim bermain imbang dengan skor 2-2. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Peluit babak kedua dibunyikan. Pertanda babak kedua dimulai. Permainan kedua tim semakin seru berkembang, dan dinamis. Lagi-lagi para pelatih mengeluarkan strategi jitu untuk saling melemahkan lawan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sorak suporter pun semakin membahana ketika tendangan salah satu pemain timnas mengenai mistar gawang Iraq. Dan lagu pun kembali dinyanyikan. &lt;em&gt;”Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku. Kuyakin hari ini kita menang.” ”Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku. Kuyakin hari ini kita menang.” ”Garuda di dadaku, Garuda… &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di tengah riuh nyanyikan, sontak para mahasiswa yang menjadi suporter membisu. Indonesia kebobolan. Suporter semakin luruh dalam bisunya ketika dalam itungan detik selanjutnya, gawang Indonesia yang dijaga oleh Yos kembali dibobol. Skor berubah cepat menjadi 2-4. Indonesia tertinggal 2 gol. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Namun nampaknya suporter tidak mau terlena, terus berlarut dalam kesedihan. suporter menjadi trigger kembalinya semangat suporter lain dengan berkali-kali meneriakkan kata merdeka. &lt;em&gt;”Merdeka…merdeka…merdeka…”&lt;/em&gt; teriak susulan para suporter. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yel-yel Garuda yang menjadi lagu timnas Indonesia kembali didendangkan. Semangat suporter telah kembali. Mereka terus bernyanyi dan bernyanyi. Seperti medle yang bernyanyi tanpa henti. Yel-yel berganti lagu, lagu berganti lagu begitu terus berganti tiada henti. Memang Nampak dalam guratan wajah suporter semangat nasionalismenya. Tak peduli peluh keringat yang bercucuran, suara yang mulai kering hamper menghilang. Mereka lakukan semua untuk satu tujuan, mendukung total timnas hingga memperoleh kemenangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Para pemain melakukan &lt;em&gt;break time&lt;/em&gt;. Nampak dari bangku pemain, pelatih timnas futsal, Justinus Lhaksana, memberikan instruksi. Kayaknya aka nada perubahan strategi. Dan benar perubahan strategi terjadi. Penjaga gawang ditarik keluar digantikan pemain baru. Timnas main dengan 5 pemain, tanpa penjaga gawang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Strategi yang dalam dunia futsal disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;power play&lt;/span&gt; besutan Justin terbukti jitu. Hanya selang 7 menit, 2 gol kembali diberikan timnas. Kini kedudukan menjadi sama, 4-4. Terlihat para pemain Iraq kewalahan dengan strategi ini. Satu pemain timnas selalu berdiri tanpa kawalan. Dan ini menjadi leluasa mengintai gawang Iraq. Sekali lengah tendangan melesat ke gawang Iraq. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Meski begitu strategi ini juga terbilang rawan. Bagaimana tidak, permaian dijalankan tanpa kiper. Sekali lengah, pemain depan musuh lepas dari kawalan bek timnas, gol pun terbuka untuk dicipta.&lt;br /&gt;Meskipun demikian cerita di lapangan Huamark stadium berbeda. Timnas justru semakin berkuasa dalam permainan. Tendangan keras kearah gawang Iraq beberapa kali diluncurkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tinggal 5 menit lagi babak usai, skor juga tak berubah, tetap 4-4. Kedua tim tetap bersemangat untuk menjebol gawang. Semua tim ingin mengakhiri pertandingan dengan kemenangan di tangan. Namun secara &lt;em&gt;average&lt;/em&gt; Indonesia di atas awan. Beberapa kali kemelut depan gawang terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Waktu terus berjalan. Papan skor menunjukkan 2 menit lagi babak berakhir. Otak-atik bola dilakukan timnas. &lt;em&gt;Passing&lt;/em&gt; cepat antarpemain dilakukan seperti permainan kucing-kucingan dalam pemanasan sepakbola. Kali ini kucing itu adalah Iraq. Terus berusaha merebut dari kaki pemain Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tidak berhasil direbut, yang terjadi justru kemelut bola di depan gawang Iraq. Kemelut lama terjadi seakan ikut mempercepat waktu yang hampir habis. Nampaknya pemain timnas tidak sabar menunggu. Kemelut pun diakhiri dengan tembakan keras dari pemain belakang timnas. Dan gol pun terjadi. Skor berubah. Indonesia lebih unggul daripada Iraq. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kembali suporter riuh dengan lagu Garuda. &lt;em&gt;”Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku. Kuyakin hari ini kita menang.” ”Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku. Kuyakin hari ini kita menang.” ”Garuda di dadaku, Garuda… &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tiit…tit….tiit….Peluit panjang ditiup sang wasit. Pertanda waktu pertandingan sudah habis. Gegap-gempita memenuhi suasana stadion. Dan seketika puluhan suporter Indonesia melompat dan berlari menghampiri kawanan pemain timnas di tengah lapangan. Luapan kegembiraan pun terujud dalam teriakan-teriakan. Menang…Menang…Hidup Indonesia…Indonesia Menang…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Haru tak terelakkan. Namun tak berapa lama, satuan keamanan meneriakinya. Meminta para suporter untuk kembali ke bangku penonton. Dan berhamburanlah mereka patuh. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Timnas Indonesia juga meluapkan rasa gembira dan haru luar biasa. Kemenangan menjadi miliknya dan pundi-pundi bonus di depan mata. Meski dalam AFC Futsal Championship Thailand 2008 ini timnas tidak berhasil membawa piala, mereka cukup puas dengan posisi ketiga. Di atas mereka dua negara yang dengan pongah membantai Indonesia, Kyrgystan dan Thailand.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-2672463923920806372?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/2672463923920806372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=2672463923920806372&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/2672463923920806372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/2672463923920806372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2008/05/timnas-futsal-indonesia-kalahkan-iraq.html' title='Timnas futsal Indonesia kalahkan Iraq-road in Thailand (2)'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDBuDT-4tDI/AAAAAAAAAG0/ZG677wFnk0o/s72-c/Lomba+futsal+se-Asia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-3830022325086058606</id><published>2008-05-19T00:01:00.006+07:00</published><updated>2008-05-19T00:09:56.151+07:00</updated><title type='text'>University in Mall</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDBhBz-4tBI/AAAAAAAAAGk/6cgqBhQloQM/s1600-h/rajabhat%2Buniversity%2Bin%2Bmall.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201764253374657554" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDBhBz-4tBI/AAAAAAAAAGk/6cgqBhQloQM/s200/rajabhat%2Buniversity%2Bin%2Bmall.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hari-hari awal bulan Mei 2008, aku lewatkan di Negara tetangga Indonesia, Thailand. Sejak awal kedatanganku di Pulau Gajah, tidak ada hal yang begitu memesona. Tiada yang membuatku begitu terheran layaknya turis pada umumnya. Mungkin aku berbeda. Ya, boleh dibilang aku bukan termasuk dalam golongan yang mudah terlena. Atau mungkin, benar-benar tidak ada hal yang berhasil memesona diriku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hampir semua sektor kehidupan Thailand memiliki kemiripan dengan negaraku, Indonesia. Di Ibu kota, Bangkok misalnya, tidak berbeda dengan Jakarta sebagai ibu kota. Mal-mal tinggi menjulang berdiri, jalan layang &lt;em&gt;(fly over)&lt;/em&gt;, dan tol panjang mengular pun ada. Namun demikian tidak ketinggalan kesenjangan ekonomi yang tervisualisasi melalui rumah-rumah kecil-reot di tengah kesombongan bangunan perkantoran dan mal yang tinggi perkasa, juga menjadi warna Ibu kota Thailand.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Menginjak akhir minggu pertama, kesan-kesan di atas seakan sirna. Ada satu fenomena menarik. Awalnya aku hanya mengamati. Namun nampaknya fenomena ini tidak hanya membuatku berhenti dengan mengamati. Lebih lanjut terus mengajakku mencermati secara mendalam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini benar-benar langka. Sepanjang pengamatan dan pengetahuanku, belum atau bahkan tidak akan kita temukan di seluruh sudut kota di Indonesia. Sehingga tidak berlebihan jika kemudian aku dokumentasikan melalui tulisan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada tempat sekolah di mal. Itulah fenomenanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;* * *&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mal. Kita semua mengenalnya sebagai pusat perbelanjaan. Dalam bahasa ekonomi disebut pasar. Tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Jual-beli barang dan jasa. Tidak hanya itu beberapa mal besar memiliki beberapa ekstra-fungsi. Mal juga berfungsi sebagai arena bermain dan show area. Begitulah definisi mal yang kita pahami selama ini. Namun nampaknya definisi tersebut tidak berlaku di Bangkok. Beberapa mal besar di sana tidak hanya memfungsikan diri sebagai tempat penjualan barang dan jasa, arena bermain atau &lt;em&gt;show area&lt;/em&gt;. Lebih dari itu mal-mal di Bangkok juga memfungsikan sebagai tempat pendidikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang sedikit aneh bagi kita. Bagaimana mungkin mal yang identik dengan hal glamor, hedonistik dapat berpadu dengan dunia pendiaikan. Kita semua tahu pendidikan merupakan bidang yang lekat dengan dunia akademik, pembelajaran dan pemikiran. Jauh dari dunia hedonis, yang hanya menyajikan kesenangan semata. Sungguh kontradiktif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mal Fashion Island salah satunya. Kalau kita berkunjung ke sana, akan kita temukan di lantai satu tempat pendidikan tingkat tinggi. Universitas Rajabhat Phranakhon University namanya. Universitas swasta ini berdiri lengkap dengan semua fasilitas pendidikan. Ruang kelas, laboratorium, kantor administrasi, dan taman baca. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekilas kita tidak akan tahu bahwa ruangan itu adalah universitas. Kita akan mengiranya ruko. Karena memang ruangannya kecil, seperti ukuran ruko-ruko lainnya. Namun yang membedakan hanya tampilan muka. Banner besar bergambar logo universitas dan beberapa meja-kuris panjang berbanjar di depannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keheranan kita semakin bertambah ketika melihat beberapa mahasiswa dan dosen duduk di kursi-kursi sambil membaca dan beberapa mengerjakan tugas. Seperti tidak ada gangguan bagi mereka. Mereka terlihat begitu menikmati. Melakukan aktivitas akademis di tengah para pejalan kaki dan aktivitas jual-beli. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menarik fenomena ini. Layak dijadikan bahan analisis kita. Kenapa perguruan tinggi bisa tumbuh di dalam mal? Mengapa hal ini bisa terjadi? Fenomena apa yang melatarinya? Akankah fenomena ini merupakan strategi baru untuk kembali mengajak masyarakat yang mulai kurang melirik sektor pendidikan. Ataukah sektor pendidikan telah menjadi komoditas baru yang cukup menjanjikan untuk dikapitalisasi? Atau fenomena apa?[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-3830022325086058606?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/3830022325086058606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=3830022325086058606&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/3830022325086058606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/3830022325086058606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2008/05/university-in-mall.html' title='University in Mall'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/SDBhBz-4tBI/AAAAAAAAAGk/6cgqBhQloQM/s72-c/rajabhat%2Buniversity%2Bin%2Bmall.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-1676038761734045948</id><published>2007-11-03T16:17:00.000+07:00</published><updated>2007-11-03T16:28:52.817+07:00</updated><title type='text'>Akankah atawa Sedangkan</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Akankah kita terus diam, berpangku tangan&lt;br /&gt;Sedangkan mereak tunggang langgang,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Berlari kencang, laiknya seekor kijang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Mereka semua berharap akan sebuah kemenangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;        &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akankah kita terus menyendiri, mengisolasi&lt;br /&gt;Sedangkan mereka gegap-gempita menabuh genderang kebersamaan&lt;br /&gt;Mereak riuh-redam larut dalam keramaian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akankah kita terus…&lt;br /&gt;Sedangkan mereka…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sudah saatnya kita lari tunggang-langgang meraih kemenangan&lt;br /&gt;Sudah waktunya kita hadir dalam kebersamaan&lt;br /&gt;Dan sudah masanya kita untuk terus berjuang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Melawan keterasingan,&lt;br /&gt;Menuju cita-cita kemerdekaan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=";font-family:lucida grande;font-size:85%;"  &gt;Gubug biru, 02112007 : 01.00&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-1676038761734045948?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/1676038761734045948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=1676038761734045948&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/1676038761734045948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/1676038761734045948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2007/11/akankah-dan-sedangkan.html' title='Akankah atawa Sedangkan'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-8230264823966801277</id><published>2007-10-01T20:42:00.000+07:00</published><updated>2007-10-08T02:04:27.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='t u l i s'/><title type='text'>Economic of Love</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/RwD5TNgS2QI/AAAAAAAAAFs/5POu7ljLgk8/s1600-h/love.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 177px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/RwD5TNgS2QI/AAAAAAAAAFs/5POu7ljLgk8/s320/love.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116363285130828034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="arial"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Ketika aku melihat fungsi penawaranmu yang maha dasyat&lt;br /&gt;Ku sambut dengan fungsi permintaanku…sambil terkulai&lt;br /&gt;Tetunya dengan cita &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terbentuknya titik ekuilibrium di antara kita berdua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun akankah semua asumsi dalam benak ini menurunkan fungsi utilitasmu&lt;br /&gt;Titik temu di antara demand-supply lah yang akan menentukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Oh…berilah aku sebuah model sederhana agar dapat mengutarakan semua ini&lt;br /&gt;Cinta ku bagai himpunan convex&lt;br /&gt;Selalu mengalami trend naik di setiap waktunya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                    &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau tak percaya,&lt;br /&gt;carilah titik dalam kurva hatiku dan hatimu&lt;br /&gt;Lalu ketika kau menarik garis keduanya&lt;br /&gt;Maka akan kupastikan titik temu keduanya&lt;br /&gt;Menjadikan bukti rindu ini masih tetap milikmu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Telah berkali-kali ku melewati perasaan diminishing of return terhadap mu&lt;br /&gt;Namun kau harus yakin, dirimu tetap tak akan pernah tersubstitusikan oleh siapa pun&lt;br /&gt;Mari kita satukan komplemen-komplemen gejolak ini&lt;br /&gt;Agar semua variabel yang memengaruhi relung asmara ini&lt;br /&gt;Menuju titik maksimum yang diharapkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Skedul-skedul benih-benih yang kau tinggalkan&lt;br /&gt;Ku harap dapat sesuai dengan budget line yang aku utarakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mmm,...akankah terus terjadi inflasi cinta seperti ini&lt;br /&gt;Kondisi krisis yang berlarut-larut,&lt;br /&gt;Apakah semakin memaksa diriku jatuh pada pilihan floating policy&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" class="MsoNormal" &gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ku berharap agregat bisik jiwa dalam diriku mampu menahannya&lt;br /&gt;Karena aku yakin, the invisible hand akan mampu membawamu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Kepada diriku seorang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-8230264823966801277?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/8230264823966801277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=8230264823966801277&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/8230264823966801277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/8230264823966801277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2007/10/economic-of-love.html' title='Economic of Love'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KBk2rKg3BSc/RwD5TNgS2QI/AAAAAAAAAFs/5POu7ljLgk8/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-3713236748220464021</id><published>2007-09-27T16:19:00.001+07:00</published><updated>2007-09-27T16:19:49.306+07:00</updated><title type='text'>Sebelum lupa,…</title><content type='html'>Sebelum lupa, kususun&lt;br /&gt;Wajahmu dalam serpihan ingatan&lt;br /&gt;Terjebak dalam kenangan&lt;br /&gt;Mungkin, menjadikanku sedikit edan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lupa, kutulis&lt;br /&gt;Namamu dalam kata&lt;br /&gt;Lalu, kupenggal dalam diam&lt;br /&gt;Sepipun mengubur dalam-dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi sebelum lupa, kubaca&lt;br /&gt;Kenangan dalam hawa&lt;br /&gt;Gambar foto yang sedikit tak berupa&lt;br /&gt;Turut mencoba mereka&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan, &lt;br /&gt;Takutku mulai menjelma&lt;br /&gt;Tak tau mengapa &lt;br /&gt;Benar-benar takut tuk menerka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tau apa&lt;br /&gt;Apakah kau sudah lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar kata, tuk mencoba mereka. Kala itu.&lt;br /&gt;Di kala matahari congkak di dirinya.&lt;br /&gt;Menghujani kecongkaan sang garuda wisnu kencana.&lt;br /&gt;Sederet kenangan manis tak terlupa.&lt;br /&gt;Tapi semua tak lagi berupa. Apalagi berwarna.&lt;br /&gt;Hanya sampai di ujung kata.&lt;br /&gt;Dan semoga tak berakhir dengan dusta. Amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali bagus, 19 April 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-3713236748220464021?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/3713236748220464021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=3713236748220464021&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/3713236748220464021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/3713236748220464021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2007/09/sebelum-lupa_9818.html' title='Sebelum lupa,…'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-4015272606569231256</id><published>2007-09-27T16:11:00.000+07:00</published><updated>2007-09-27T16:13:33.617+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='t u l i s'/><title type='text'>Pers Mahasiswa: Tak mau mati, hidup saja</title><content type='html'>oleh. Alvin N M*&lt;br /&gt;Persma atau lembaga pers mahasiswa, bagaimana nasibmu kini? Pertanyaan inilah yang harus kita jawab bersama sebagai punggawa atau pegiat persma. Tetapkah dirimu dalam kubangan permasalahan penerbitan yang berkala. Kala-kala terbit dan kala-kala tidak terbit. Sumberdaya manusia yang punah dimakan seleksi alam. Dan, dana yang tak kunjung cukup memenuhi kebutuhan operasional liputan sampai pencetakan berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup segan mati tak mau. Mungkin itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan kondisi lembaga pers mahasiswa kekinian. Hidup segan karena semua serba kesulitan dan repot. Sulit dana, repot ngurus awak redaksi yang ogah-ogahan, repot tugas kuliah atau apa pun lah yang membawa rasa segan untuk hidup. Memang sak repotan sendiri jadi persma. Mati tak mau. Jelaslah bagaimana kalau persma mati, siapa yang akan membuat berita yang ’benar’. Siapa yang akan menyatakan kebenaran. Siapa lagi kalau bukan persma di tengah derasnya arus modal kapitalisme yang melilit perusahaan media. Meski dengan seambrek ’repotan’ persma tetap harus hidup. Tak mau mati.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun rasanya sekarang kita tak harus gundah dengan gambaran tersebut. Apalagi bingung dengan ungkapan hidup segan mati tak mau. Ungkapan itu harus segera didekonstruksi. Sudah saatnya beralih pada gambaran atau ungkapan yang lain. Persma yang tak segan hidup dan tak akan mati selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Persma harus berubah&lt;br /&gt;Tentunya konstruksi di atas tidak muncul begitu saja. Ada satu hal yang dapat dijadikan preskripsi bersama. Resep itu adalah manajemen. Jika ingin lepas dari belitan realitas pelik permasalahan di atas, harus dilakukan perubahan manajemen persma. Persma harus dikelola dengan manajemen yang baik dan tertata. Tidak ada lagi istilah bebas deadline, sdm yang sedikit, kurang dana, atau pun pledoi klasik nan klise lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen yang dimaksud terbagi menjadi tiga hal. Manajemen redaksi, manajemen sdm, dan manajemen organisasi. Memang nampaknya dalam keseharian mengelola lpm, kita sudah menerapkan tiga manajemen tersebut. Tapi coba kita pahami lagi, benarkah yang kita terapkan adalah manajemen yang baik. Sebuah manajemen yang lengkap dengan kekuatan controling di dalamnya. Rasanya tidak, selama ini yang kita lakukan hanya sebatas perencanaan dan pelaksanaan. Kalau pun ada kontrol seringkali tidak maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mari kita kupas satu per satu. Pertama, manajemen redaksi. Kita bersama mafhum, sebagaimana mestinya persma telah menerapkan manajemen redaksi dalam kinerjanya. Dan kita semua paham benar, bahkan nglotok manajemen redaksi. Mungkin karena terlalu seringnya kita mendengarkannya dan mendendangkannya dalam setiap materi pelatihan jurnalistik tingkat dasar dan lanjut. Akan tetapi sudahkan kita menerapkannya dengan maksimal dan benar. Mengapa masih terjadi los deadline? Apa yang salah dari itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan coba menjawabnya, yang salah atau yang menyebabkan terjadi lepas deadline adalah manajemen redaksi yang amburadul. Pemahaman yang ada manajemen redaksi persma adalah sama dengan penjelasan urutan kerja redaksi beserta tupoksi masing-masing redaksinya. Padahal manajemen yang sebenarnya haruslah detail dan tentunya fleksibel sesuai dengan kondisi obyektif masing-masing lpm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, parahnya lagi manajemen redaksi yang didapat dan ada hanyalah teori. Ketidakpercayaan muncul, mungkin karena tidak pernah ditemukannya kondisi realitas yang sama dengan materi manajemen redaksi yang dijelaskan. Apalagi ditambah dengan pola pemahaman manajemen redaksi yang turun-temurun. Sama sejak bahula sampai sekarang. Tidak pernah ada inovasi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya adalah pegiat persma akan berjalan seadanya, sesuai pakem yang telah didapat, biasa-biasa saja. Tidak pernah ada inovasi dalam pengelolaan redaksi. Kalaupun ada terhitung minim, karena senantiasa dibayangi pakem yang rasanya tidak lagi boleh berubah. Semua itu salah dan selanjutnya menjadi penyebab manajemen redaksi amburadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pegiat persma kita harus berani beda, selalu berinovasi. Mengikuti perkembangan jaman tapi tidak larut bersama arusnya. Artinya, manajemen redaksi harus berubah demikian adanya. Tidak ada pakem yang mewajibkan persma harus menerbitkan majalah ataupun buletin. Pola fleksibilitas harus kita ciptakan dalam diri persma. Kalau tidak bisa menerbitkan majalah, ya jangan menerbitkan majalah kalau tidak mau keteteran. Mengapa tidak terbitkan buletin, yang relatif lebih mudah, murah, dan terjangkau. Senyampang maksud dan isi berita sampai pada pembaca. Itu pun juga bukan alternatif tunggal, banyak alternatif lain yang justru memiliki outcome besar ke pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemahaman di atas dapat kita pahami bersama, harapan redaksi untuk menerbitkan media persma yang kontinyu sesuai deadline tidak lagi menjadi mimpi. Persoalan selanjutnya, cukupkah dengan manajemen redaksi yang berhasil membuat media terbit kotinyu. Bagaimana dan sudahkah media kita dibaca oleh pembaca? Tentunya hal ini juga menjadi persoalan yang menuntut penyelesaian manajemen redaksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dengar jurnalisme komik, pemberitaan dengan medium utama gambar, atau jurnalisme pesawat kertas, medium pemberitaan yang simple hanya dengan selembar kertas yang dilipat seperti membuat pesawat dari kertas. Semua itu media alternatif, yang kiranya lebih dapat dan ’dapet’ di hati pembaca. Bukankah maksud pemberitaan kita adalah sampainya maksud tulisan ke pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, ditengah deras arus penerbitan media umum yang tampil dengan wajah beragam daya tarik, media persma harus juga berbenah. Image persma dengan media yang kurang menarik, jadul, atau konvensional mungkin, harus segera kita patahkan. Kuncinya adalah bagaimana manajemen redaksi kita maknai sebagai pola yang harus kita terapkan dengan beragam pertimbangan faktor yang melingkupinya. Singkirkan manajemen yang jumud bergantilah ke manajemen redaksi yang lebih up to date.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, manajemen sdm. Sebatas pengamatan saya, makin hari peminat jurnalistik, sebagai core activity dari persma, semakin bertambah. Kegiatan yang ada sangkut-pautnya dengan ritus kewartawanaan semakin diminati muda-mudi. Coba kita amati, berbagai media massa nasional atau pun lokal, mulai menambah rubrik muda, yang semua itu digawangi oleh wartawan muda juga. Artinya, kaitannya dengan sdm persma hari ini, aktivitas pers semakin diminati dan dapat dipastikan mahasiswa yang tertarik di dunia ini juga semakin banyak. Lebih lanjut tidak ada alasan untuk minim sdm atau terlambatnya proses regenerasi bagi lembaga persma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi mengapa persma kekinian minim sdm? Mungkinkah ini dampak dari seleksi alam? Saya rasa tidak. Seleksi alam tidak akan pernah terjadi jika kita punya manajemen sdm persma yang baik. Selama ini kita selalu menyalahkan pegiat baru persma yang tidak at home dengan model persma. Mungkin ada benarnya. Tapi boleh jadi mereka terdepak seleksi karena manajemen sdm kita yang ala kadarnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, manajemen organisasi. Selama ini kita disibukkan dengan urusan redaksi dan sumberdaya manusia. Sehingga keduanya menyilaukan pandangan kita dari urusan yang satu ini, organisasi. Bukan maksud untuk membedakan urusan redaksi dengan organisasi. Karena memang ada yang beranggapan urusan organisasi secara implisit sudah ada dalam redaksi. I don’t give a shit-lah dengan itu, yang jelas urusan organisasi harus kita pentingkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi boleh jadi yang akan menyeimbangkan kedua manajemen di atas, redaksi dan sdm. Dengan manajemen organisasi kita dapat mengemas keduanya menjadi kekuatan yang menopang laju persma. Saya punya anggapan, dengan manajemen organisasi yang baik, sebuah lembaga persma tidak lagi monoton dengan aktivitas ’persma’. Mungkin kita harus berani beda untuk mencipta sebuah kemasan. Karena tujuan mulia persma untuk menyatakan kebenaran dan membenarkan kenyataan, tidaklah an sich melalui pemberitaan media. Banyak aktivitas lain yang sebenarnya dapat meyokong tujuan mulia tersebut. Dan posisi ini menjadi fokus organisasi dengan manajemennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya Persma bangkit&lt;br /&gt;Masih banyak sebenarnya yang dapat kita kupas dalam persma. Tulisan ini hanya mencoba mengantar dan sedikit ’membuka’ kalaupun selama ini nampak ’tertutup’ pemikiran kita bersama. Telah banyak perbedaan era sekarang dan era lama, era dimana media persma menjadi kekuatan yang tiada tandingannya. Dimana kala itu memang semua takut dan menutup ketakutan akan otoritarian pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana sekarang. Jaman telah berubah, semua serba terbuka semenjak kran reformasi dibuka. Tidak ada lagi perusahaan media yang takut dalam pemberitaan. Ekstrimnya, positioning persma dahulu memang belum diambil pihak lain, tapi telah dimiliki semua. Akankah kita berdiri dan bergerak dengan pola lama. Tentunya tidak. Saatnya persma bangkit, berpikir cerdas dalam mengelola lembaga pers mahasiswa dengan keliaran dan ke dalaman ide yang saya yakin dimiliki para pegiat persma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tiga manajemen di atas merupakan satu kesatuan. Tidak ada yang harus lebih unggul dan terabai. Semuanya harus berjalan selaras dan seimbang menuju tujuan persma. Sehingga, persma ke-kini-an dan ke-akan-an tak lagi hidup segan dan mati tak mau. Pers mahasiswa Indonesia tak mau mati, hidup saja. Viva persma!!!&lt;br /&gt;*) santriwan yang gemar mengaji dan mengkaji ilmu ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-4015272606569231256?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/4015272606569231256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=4015272606569231256&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/4015272606569231256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/4015272606569231256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2007/09/pers-mahasiswa-tak-mau-mati-hidup-saja.html' title='Pers Mahasiswa: Tak mau mati, hidup saja'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6050557374320196627.post-7729767709616372248</id><published>2007-09-27T16:10:00.000+07:00</published><updated>2007-09-27T16:11:41.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='t u l i s'/><title type='text'>Mulai menjelma,...</title><content type='html'>Mulai menjelma, mata itu&lt;br /&gt;Dalam kuasa sinar surya nan biru&lt;br /&gt;Namun sesekali malu&lt;br /&gt;Meski aku yakin semua itu milik ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai menjelma, tubuh itu &lt;br /&gt;Dalam sadar jauh dari kaku&lt;br /&gt;Tapi jelas itu semua milikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai menjelma, suara itu&lt;br /&gt;Layaknya merdu sarbu&lt;br /&gt;Meski terkadang sendu&lt;br /&gt;Semua itu tetap milikku&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan, semua itu kala itu&lt;br /&gt;Tak tau, aku sekarang mulai ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, terus meragu&lt;br /&gt;Tak tau mengapa&lt;br /&gt;Karena semua itu mulai semu&lt;br /&gt;Dan, seringkali menjadi abu-abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagimana pun itu&lt;br /&gt;Terus menjelma, semu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai ragu. Polah tingkah yang seringkali membuatku malu.&lt;br /&gt;Namun aku sadar semua itu dari ku. Untukmu meski ragu. &lt;br /&gt;Makasih atas semua keraguan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ecp:161106&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6050557374320196627-7729767709616372248?l=batulistulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batulistulis.blogspot.com/feeds/7729767709616372248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6050557374320196627&amp;postID=7729767709616372248&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/7729767709616372248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6050557374320196627/posts/default/7729767709616372248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batulistulis.blogspot.com/2007/09/mulai-menjelma.html' title='Mulai menjelma,...'/><author><name>Alvin Nur Muhammad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_RlqnOKKfL1Y/Rv9mT448oJI/AAAAAAAAAAc/piarnCcYiGk/s200/alpin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
